Cinta “Wong Cilik”, semakin cilik semakin asyikkk..!

MEGAWATI  dan Syeh Pudji mengklaim sebagai sama-sama pecinta wong cilik. Ternyata suami Ny. Kastilah, 40, yang bernama Sayid, 35, juga punya kepedulian yang sama. Saking cintanya pada wong cilik, beberapa hari lalu dia ditangkap polisi Polres Lumajang (Jatim) gara-gara memperkosa gadis ABG yang anak tiri Sayid.
Sejak lama Megawati capres PDI-P dan Syeh Pudji pengusaha dari Semarang, mengaku sebagai pecinta wong cilik. Bila putri Bung Karno ini sangat bermakna politis, Syeh Pudji bernilai biologis. Soalnya, dengan merangkul wong cilik diharapkan oleh Megawati bahwa perolehan dalam Pilpres mendatang bisa meningkat. Sebaliknya Syeh Pudji, dengan “merangkul” wong cilik atau gadis cilik, kebutuhan biologisnya segera terpenuhi. Oleh karena itu meski ulahnya jadi perkara hukum, Syeh Pudji berusaha mengawini gadis cilik. Menurut pemahamannya, semakin cilik si istri, semakin asyikkk..!
Kenal langsung sih tidak, tapi Sayid warga Desa Dawuhan Wetan Kecamatan Rowokangkung pernah mengenal keduanya lewat teve dan koran. Gara-gara itulah, pengusaha jamu rumahan dari Kabupaten Lumajang ini ingin mengikuti jejak rekam mereka. Mencintai wong cilik ala Megawati, sangatlah berat. Yang lebih mudah dan kayaknya enak, adalah mengikuti platform politik Syeh Pudji. Apa lagi ini sangat parallel dan seiring dengan obsesinya selama ini. “Seperti apa sih rasanya sebuah keperawanan itu,” begitu Sayid pernah bertanya, seakan menggugat garis nasibnya sendiri.
Sayid memang lelaki yang tak begitu bahagia dalam perjalanan cinta. Hingga berusia kepala tiga, belum juga pernah ada gadis yang mau menerima cintanya yang suci murni bebas hama sundep dan beluk. Di samping perwajahan yang dimiliki sangatlah standar, dia tak memiliki pekerjaan yang bergengsi, kecuali hanya tukang meramu jamu Jawa warisan leluhur. Dus karena itulah, meski teman-teman seangkatannya sudah berumahtangga dan punya anak, dia masih seperti Rinso: mencuci sendiri!
Sampailah kemudian Sayid ketemu janda Kastilah yang sudah punya anak usia 10 tahunan. Melalui azas simbiosis mutualis (memberi dan menerima), mereka pun menikah. Maksudnya,  Kastilah yang punya bakat dagang, siap memasarkan produk jamu yang dibuat perjaka tua Sayid. Nah, lewat cinta beraroma bisnis itulah rumahtangga mereka dibangun. Dan ternyata sama-sama mengasyikkan. Ekonomi pasangan suami istri ini lancar, dan malam hari Sayid juga tak perlu kademen (kedinginan) lagi, meski sebetulnya hanya sebagai generasi penerus alias: Lanjutkan!
Namun ternyata, sudah 5 tahun jadi suami istri belum juga dikaruniai momongan. Tragis nggak? Siang nguleg jamu, malam “nguleg” Kastilah, hasil yang diperoleh Sayid hanyalah kringeten thok (berkeringat doang). Sejak itulah produsen jamu rumahan ini terjebak rasa jenuh. Dan ironisnya lagi, kemudian Sayid punya obsesi baru: seperti apa sih enaknya kawin dengan seorang gadis? “Aku mengacu prinsip “lanjutkan” milik suami Kastilah dulu, hasilnya hanya begini,” keluh Sayid.
Entah dari mana asalnya, tiba-tiba setan membisiki Sayid untuk menumpahkan obsesinya pada Ninuk, 15, anak ABG sekaligus anak tirinya sendiri. Dan beberapa hari lalu, ketika istrinya memasarkan jamu ke pasar-pasar, Sayid di rumah “menjajal” keperawanan anak tirinya secara paksa. Asyik memang asyik, tapi si ABG yang tak suka jadi korban obsesi lelaki pecinta “wong cilik”, segera mengadu pada ibunya dan langsung dilaporkan pada Polres Lumajang. “Sebagai pecinta “wong cilik” aku memang sangat pro kenikmatan,” kata Sayid tanpa merasa berdosa.
Pro Syeh Pudji, gitu!

sumber: poskota.co.id (JP/Gunarso TS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: